Senin, 19 Februari 2018

Digital Mastery dan Audit Teknologi









Digital Mastery adalah sekumpulan attitude/sikap/tingkah laku dan skill/kemampuan/keahlian yang terkait dengan aspek-aspek digital seperti  digital attitude, digital leadership, digital capability, dan sebagainya. Keahlian atau kemampuan Digital Mastery sebaiknya dimiliki atau diterapkan oleh sebanyak mungkin SDM perusahaan, agar mampu memberikan respons terbaik terhadap fenomena era digital atau industri 4.0
Transformasi digital dalam era industri 4.0 tidak hanya mencakup masalah teknologi namun sebuah transformasi organisasi menyeluruh yang mengedepankan aspek sumber daya manusia, budaya organisasi dan sistem proses perusahaan. Hal inilah yang diakui oleh berbagai perusahaan start-up teknologi seperti Bukalapak, Uber, Jenius (BTPN), Sakuku, dan Gojek
Digital mastery mewakili keunggulan pada dimensi digital dan kepemimpinan, yaitu digital leadership sebagai kemampuan manusia untuk melakukan inisiatif mengembangkan teknologi menjadi sesuatu yang punya value/nilai dan digital capability dalam kemampuan menguasai teknologi digital.
Ia menambahkan bahwa pendekatan khas Indonesia untuk digital mastery development dengan cepat adalah melalui pendekatan trilogy. Pendekatan ini adalah disruptive experiential, coaching, dan unlocking best potential sumber daya manusia ke titik tertinggi dan pengembangan diri melalui professional coaching. “Pengembangan digital mastery harus dilakukan dengan pendekatan experiential yang melibatkan orang mengalami dan berinteraksi langsung. Nilai culture baru yang perlu diterapkan perusahaan antara lain seperti agility, experiential, dan open mindset,” 
Langkah-langkah Mengembangkan Digital Mastery
1.       Kembangkan model Digital Matery perusahaan yang sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini dan temukan pengungkit (levers) yang tepat untuk melakukan Digital Mastery perusahaan.
2.       Analisa dan lakukan rencana aksi atas gap yang ada yang diperoleh dengan melakukan pemetaan teknologi/audit teknologi yang dimiliki perusahaan.
3.       Kembangkan strategi pengembangan Digital Mastery perusahaan berdasarkan pengungkit.
4.       Buatlah semacam lingkungan Silicon Valley (Pusat Manajemen Pengetahuan) perusahaan.
5.       Tugaskan talent perusahaan untuk merasakan pengalaman langsung mempelajari struktur Digital Mastery, bekerja sesuasi dengan pendekatan Digital Mastery, dan menerapkan prinsip epigenetic.
6.       Buatlah Digital Mastery enabler dan Centre of Excellence di lingkungan perusahaan.
7.       Lakukan evaluasi dan monitoring serta kalibrasi lintas-perusahaan dengan "patok banding" dan audit teknologi.
Contoh pertama sebuah perusahaan yang menggunakan aspek digital yaitu Nike yang kita kenal sebagai perusahaan sepatu olahraga. Layaknya sepatu, maka kenyamanan saat dipakai, ringan dan awet adalah parameter kualitas sepatu yang dipilih oleh pelanggan . Nike tetap mempertahankan kualitas fisik tersebut. Namun Nike berusaha menggabungkan dimensi fisik dan dimensi digital. Nike sport band merupakan jawaban Nike akan adaptasi digital dalam bisnis, yaitu menggunakan: Perangkat pergelangan tangan yang mampu memberitahu pelari berapa jarak yang telah ditempuh, mengukur pacu lari, waktu lari, serta kalori yang telah terbakar. Perangkat ini dapat terhubung ke Ipod/Android, sehingga dapat memantau sambil mendengarkan musik.; USB Flashdrive yang bisa terkoneksi dengan www.nikeplus.com, memungkinkan seluruh aktivitas lari direkam dan dimasukkan ke dalam situs web tersebut. Situs ini akan merekam jelajah yang telah ditempuh selama berlari dalam peta, melihat kemajuan olahraga lari setiap hari, menetapkan tujuan lari yang ingin dicapai, dan bersaing lari dengan orang lain yang juga menggunakan SportBand. ;SportBand menjadi menarik karena dapat membentuk komunitas pelari secara online yang tidak mengenal satu sama lain dan menjadi tantangan berlomba untuk meningkatkan target lari yang ingin dicapai seseorang.
Kemampuan Digital Perusahaan : Sebuah perusahaan pasti akan menentukan strategi, apa yang akan menjadi andalan dalam kemampuan digitalnya. Strategi yang dipilih akan memiliki aspek investasi terhadap kemampuan digital dan kemampuan Digital sebuah perusahaan dapat dilihat dari : Digital Customer Experience, sejauh mana pelanggan merasakan layanan digital dari perusahaan. Layanan digital ini dapat berupa akses layanan via mobile, hadirnya perusahan melalui sosial media atau tersedianya layanan transaksi online.; Internal Process Excellence, proses bisnis internal yang dilakukan oleh perusahaan telah berdasarkan pada supply-chain integration, di mana mengarah pada centralized-ordering yang berujung pada Digital Customer Experience. Sehingga secara mudah dapat dikatakan, apabila pelanggan sudah menerima layanan digital, tentunya pemrosesan di internal perusahaan juga harus berbasis digital yang handal, dengan kata lain, jika input dari customer digital, maka proses internal juga harus digital.; Data Analytics and Data Science, perusahaan memiliki kemampuan untuk menganalisa, khususnya perilaku pelanggan  dalam Digital Customer Experience. Hasil analisa ini akan dimanfaatkan untuk perbaikan layanan digital, penemuan layanan digital baru atau mendapatkan peluang bisnis.
 Kemampuan Leadership Perusahaan: Kepemimpinan dalam perusahaan akan sangat mempengaruhi keberhasilan inovasi digital yang dilakukan. Kepemimpinan  perusahaan meliputi  semua level, mulai darii Kepala Divisi, Manager, GM, VP dan CEO. Kemampuan leadership perusahaan yang mendukung inovasi digital adalah kepemimpinan yang mempunyai : Vision. Kepemimpinan yang memiliki visi kearah  kedepan/transformasi digital, kesadaran dan kepemahaman akan arah kedepan perusahaan untuk mengadaptasi perubahan digital.; Engagement. Kepemimpinan yang mampu mengajak seluruh komponen pegawai untuk melakukan perubahan, tentunya perubahan yang sesuai visi terdepan perusahaan menuju digital. Untuk memahami perubahan pastinya membutuhkan peningkatan kemampuan/skill, pemimpin harus berani melakukan investasi untuk peningkatan kemampuan/skill pegawai untuk mengadaptasi perubahan.; IT and Business. Kepemimpinan yang mampu menyelaraskan antara kebutuhan bisnis dengan Teknologi Informasi dan memberikan IT sebuah peran sebagai agen perubahan dan enabler dalam perusahaan.; Governance. Kepemimpinan yang mampu menjalankan tata kelola perusahaan dengan baik, dengan salah satunya memastikan kejelasan tupoksi atau job description dan peran dalam pendekatan matriks penugasan tanggung jawab/RAM/ RACI (Responsible Accontable Consulted Informed). Ditunjukkan dengan dibentuknya tim khusus untuk program inovasi digital dengan dipimpin oleh Chief Digital Officer. Lalu memperhitungkan setiap nilai investasi terhadap program-program digital dengan keseimbangan pada ROI (Return on Investment) dan CBA (Cost Benefit Analysis) dengan melakukan pemetaan teknologi/Audit Teknologi
Perubahan digital adalah sebuah kenyataan  dan tidak terbantahkan ataupun terhindari. Anak-anak saat ini dilahirkan dengan membawa DNA digital, tetapi generasi manusia yang lahir tahun 2000 ke bawah belum membawa DNA digital, maka diperlukan perubahan budaya digital. Seberapa kuat sebuah perusahaan menahan gempuran digital, tanpa berinovasi dan bertransformasi ke digital? Menarik untuk dicermati dan dianalisa. Selamat Datang di dunia digital.

Senin, 12 Februari 2018

Audit Teknologi era Industri 4.0



Revolusi industri generasi keempat saat ini telah dimulai dengan  ditandai  kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, revolusi pemasaran (e-commerce), perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak dsb. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama, ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin uap. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat. Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet. Pada revolusi industri generasi keempat yang saat ini sedang berjalan,  ditandai dengan disruptif teknologi (disruptive technology) yang hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.

Pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil. Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.

Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signals amidst the noise). Memahami adanya teknologi baru yang bisa mengancam kelangsungan perusahaan dengan melakukan re-posisi bisnis usaha seperti yang dilakukan Polygram sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia di era 1990 yang kemudian menjual perusahaannya pada 1998 disaat teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.  Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis. Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.

Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.

Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaan incumbent relatif sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis baru. Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.

Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbent hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi. Pada tahap inipun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam.

Berdasarkan empat tahapan posisi perusahaan di era disruptif teknologi , sudah seharusnya setiap perusahaan mulai melakukan deteksi dini atau AUDIT TEKNOLOGI yang dimilki perusahaan sehingga dapat mampu melakukan langkah antisipasi yang tepat. Tantangan terberat biasanta terjadi pada perusahaan besar yang  market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif teknologi hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).